Selasa, 20 April 2010

i am very scary about my future

Ahhh...Lega rasanya saat kita melepaskan sebuah perasaan yang terpendam dan menyesakkan dada. Sebuah perasaan senang, sedih, dan takut yang seharusnya hanya kita yang merasakannya. Namun perasaan ini akan lebih menyenangkan apabila kita membaginya dengan orang lain. Teman dekat, keluarga, sahabat, bahkan pacar. Tidak ada yang lebih melegakan apabila kita meluapkan sebuah perasaan itu. Ibaratkan kita sedang menyukai seseorang, perasaan suka yang sangat lama. Kita berusaha untuk menunjukkannya pada orang yang dituju, namun perasaan itu tak terbalaskan. Kita memang tak bisa memaksakan kehendak karena kita bukan Tuhan. Kita hanya manusia yang hanya bisa berencana dan mengharapkan sebuah kebahagiaan. Terlalu lama perasaan itu tersimpan, hingga kita sangat lelah dan memutuskan untuk menyerah. Menyerah disini ialah melepaskan perasaan itu dan membuka lembaran baru dengan perasaan lain. Sebenarnya kita hanya mencari sebuah kebahagiaan. kadang saat sesuatu yang kita rasa dapat membahagiakan, ternyata pada kenyataannya hal tersebut bukanlah kebahagiaan sejati. Itulah manusia yang tidak pernah puas akan nafsunya. Manusia diciptakan mempunyai rasa, akal, dan nafsu. Rasa ada dihati, akal terdapat di pikiran, dan nafsu yang menyelimuti diri. Entah nafsu jahat ataupun baik. Berbicara tentang sebuah rasa yang dibahas sejak tadi. Aku hanya ingin share perasaan pribadi. Saat ini aku merasakan takut yang luar biasa. How about my future ? Sungguh saat ini aku bingung. Di satu sisi, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dengan menjalani kehidupan ini secara lurus dan patuh akan rambu-rambunya. Disisi lain, ada sesuatu hal yang merasa terkekang di dalam diri, dan ingin menyerong sedikit. Di dunia ini hanya ada dua sisi. Hitam putih, Maju mundur, Atas bawah. Setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk. Begitupun juga dengan hidupku. Apakah setiap orang sukses harus menjalani hidup ini secara lurus ? lulus kuliah, bekerja, menikah, punya keluarga, hingga akhirnya kita kembali pada sang khalik. Kita memang tak bisa menentang takdir. Aku hanya takut akan masa depanku. Entah akan bahagia atau bahkan malah sebaliknya. Aku hanya tak ingin mengecewakan semua orang ...

Aku adalah bagian dari kalian. Kita sama, manusia yang hanya mudah bermimpi dan berharap mimpi itu jadi kenyataan. Pada awalnya ada semangat membara yang muncul bagai pesawat jet yang melintasi langit-langit. Pesawat jet itu menerjang awan-awan. Tiba-tiba muncullah awan gelap dan menubruk pesawat jet tersebut. Kemudian, pesawat itu terhuyung dan hampir jatuh ke bumi. Pilot pesawat berusaha mengendalikan pesawat agar tidak terjun terhentak tanah. Sama halnya dengan semangat dalam hidup, naik-turun. Saat menghadapi cobaan yang lebih berat, semangat itu perlahan akan memudar. Memudar dan kemudian akan hilang. Kita tidak akan pernah tahu akhir dalam hidup ini. Kita selalu menghindar dari kondisi yang tidak mengeenakkan. Beberapa orang melarikan diri dari sebuah masalah. Takut mengahadapinya, takut masalah itu tak dapat terselesaikan. Intinya kita takut gagal! Kata orang, gagal itu adalah keberhasilan yang tertunda. Benarkah ? Pada tulisanku yang sebelumnya, saat seseoarang mengalami kegagalan, dia akan belajar untuk tidak gagal pada kesempatan berikutnya. Sebenarnya, kegagalan memberikan pelajaran yang berharga pada kita semua. Pada saat gagal, kita dapat merasakan sakit dan pahitnya. Mungkin paling pahit yang pernah kita rasakan. Setelah itu, kita kan berusaha bangkit, bangkit, dan bangkit dari keterpurukan. Perlahan, semangat yang tadinya memudar muncul kembali. Pilot yang berusaha mengendalikan pesawat jetnya itu, berhasil menaikkan pesawat kembali normal. Pesawat dapat terbang di atas hamparan daratan yang luasnya tiada terkira.

Kita memang tidak akan pernah tahu gambaran masa depan. Tapi kita bisa berimajinasi dalam mimpi. Bermimpilah selama kita masih bisa bermimpi. Dan jangan pernah takut untuk bermimpi yang tinggi. Karena dari mimpi itu, akan tercipta perasaan optimis dalam diri sehingga kita bersemangat menggapai mimpi yang masih menerawang jauh di alam bawah sadar. Ayo go go girls and boys !! bismilahirrohmanirrohim ...

Cheers up !!

Minggu, 18 April 2010

new game!

Hi guys! udah lama nih tak bersandang ke blog yang aneh ini. hihi..
Mao cerita ah.. beberapa hari yang lalu, gue maen ke kamar adek gue .. panggil aja D. Dia serius banget mandang kompi (komputer) yang ada di hadapannya. Lebih tepatnya sih bukan mandang doang, tapi dia sibuk menggerak-gerakkan mouse .. Pas gue deketin, ternyata ... dia buka situss Porno ! Eitz..eitz .. bukan deng ... Dia buka situs bernama www.looklet.com
What is it?? Gue tanya-tanyalah pada si D. Dia bilang looklet itu sebuah permainan anak cewek. Jaman dulu kita kenal maenan yang namanya "baju-bajuan". Itu waktu jaman SD. Eh, sekarang ternyata udah canggih banget. Maenan baju-bajuan itu berbentuk sebuah situs/website yang penampilannya udah keren banget. Kita hanya tinggal memilih modelnya, baju yang akan dipakai, aksesoris. semua sudah tersedia disana.

Tertarik dong gue untuk mencoba, akhirnya gue ikutan log-in ke situsnya. dan mulailah gue berkarya. Pas gue uplodin, ternyata banyak yang nge-love. Semakin banyak yang nge-love berarti desain kita oke. hehehe.. semenjak itu, gue jadi ketagihan buat maenan. Dan akhirnya gue dapet maenan baru. C'mon girls! follow it www.looklet.com

di coba ya...caranya gampang banget. Tinggal log-in secara free. abis itu, kita bisa langsung menuju halaman my page. Kalo mau bikin desainnya tinggal klik "create new look". kalo mau liyat karya orang lain tinggal pilih aja "looks" .. kalian juga bisa nge-love desain orang lain loh. Bahkan kalian bisa temenan sama orang luar dan dalam negeri.

Penasarankan seperti apa bentuknya.. ok check this out!

1. ini gue kasih judul back to earth, alasannya karena penuh dengan alam .



2.Kalo ini, gue kasih judul she is beautiful. orang item juga bisa cantikkan!



3. Ini banyak yang nge-love loh. gue juga sangat suka yang ini...



Iseng-iseng gue ngajak adek gue buat kompetisi. bikin lookletnya. terus kita share bareng-bareng. siapa yang paling banyak di love, dialah yang menang... ini hasil untuk kompetisi yang gue buat..


Selasa, 23 Maret 2010

Pacar Kontrak

Nia punya pacar, Danti baru aja jadian. Aku?? How about me?. Jomblo itu memang tidak mengenakkan. Rasanya hidup ku hampa. Seperti lagunya mas Ari Lasso. Setiap hari Nia dan Danti curhat tentang pacar mereka. Mulai dari kebiasaan nonton film, makan bareng, tukeran kado, dan sebagainya. Aku, apa yang aku bicarakan. Kebanyakan yang aku ceritakan tentang cowok-cowok keren yang aku taksir. Sedih banget rasanya mengharap yang tak pasti. Aku memang bukan cewek popular di kampus. Harap di maklumi karena aku adalah mahasiswi semester satu. Aku, Nia, dan Danti bersahabat sejak kecil. Rumah kami berdekatan. Bisa dibilang kami tetangga. Orang tua kami saling kenal dan keakraban selalu menyelimuti antara kami. Maka dari itu, hubungan kami sudah seperti saudara. Nia anak pertama dari tiga bersaudara, Danti dan aku ialah anak tunggal. Jadi wajar jika aku dan Danti masih manja. Namun, kami bertiga tidak satu universitas. Nia kuliah di Universitas Negeri di Depok jurusan psikologi. Sedangkan Danti dan aku sama-sama di terima di universitas Negeri yang terletak di Rawamangun. Walaupun jurusan kami berbeda, namun sama-sama satu tujuan. Yaitu menjadi seorang pengajar. Tetapi intensitas kami bertemu cukup sering karena kami tetangga. Yup, kembali kepada topik sebelumnya. Tidak mempunyai pacar itu membosankan. Setiap malam minggu tak ada yang menjemput, mengajak nonton, jalan-jalan. Dan lebih menyakitkannya lagi, kedua sahabat ku itu lebih beruntung dari pada aku. Mereka memiliki pacar yang tampan, tajir, dan juga baik. Beberapa kali, kedua sahabatku pernah berusaha mengenalkanku pada seorang cowok namun tak pernah ada yang membuat hatiku berdebar. Aku hanya menganggap mereka semua teman biasa. Teman yang biasa aku suruh-suruh. He..he..


“La, gue punya kenalan lagi ney, temennya Tody. Orangnya ganteng, baek pula. Kayaknya lo musti ketemu ama dia deh.” Seperti itulah contoh saat Nia menawarkanku calon-calon pacar. Belum bertemu wujudnya, sudah di bilang ganteng. Oiya, tody itu pacarnya Nia.


“Eitz La, gue juga punya temen. Namanya Ardi. Anak Ekonomi. Sekelas ama cowok gue. Kata cowok gue dia pinter banget. Ok banget tuy wat lo!” beda lagi halnya dengan Danti. Dia lebih antusias di banding Nia. Pinter? Ekonomi pula, nanti belum apa-apa sudah perhitungan lagi.


Keseharianku di kampus biasa saja. Dibilang aktif tidak terlalu. Aku tak ingin menonjolkan diri dulu. Aku masih ingin belajar adaptasi dengan lingkungan baru seperti mahasiswa lainnya. Di kelas aku mempunyai beberapa teman dekat. Diantaranya Sofi, Ani, wulan, Riky, dan Tedja. Dibanding yang lain, Tedja sedikit aneh. Dari namanya saja sudah aneh. Tedja. Tedjajana. Seperti lagu dangdut. Hehe. Anehnya bukan dari segi penampilan dan sifatnya, melainkan dari cara dia memperlakukanku. Aku merasa dia memberi perhatian lebih terhadapku. Bukannya ge-er, namun anak-anak yang lain juga berargumen demikian. Sejak awal masuk, dia terlihat caper (cari perhatian) dihadapanku.


“La, jangan-jangan tedjo naksir kali ama lu!” kata Nia seraya mengambil kacang dalam toples.


“Namanya tedja Ni, bukan Tedjo! Tedjo mah tukang bubur yang suka lewat di depan rumah kita kali.” Sahutku membenarkan Nia yang sepertinya lapar. Sampai-sampai salah menyebut nama. Mungkin dia sedang membayangkan buburnya mas Tedjo.


“Kalo tiba-tiba nanti Tedja nembak lo gimana la? Lo terima apa gak? Secara lo kan juga lagi jomblo.”


Benar juga apa yang di ungkapkan Danti. Jika saja suatu saat Tedja menyatakan perasaannya terhadapku. Aku harus memikirkan hal terburuknya. Selama ini, dia teman yang baik dan perhatian. Bahkan di depanku, dia tak pernah sekalipun menampakkan wajah kesalnya. Padahal berulang kali aku selalu memarahinya karena kesalahanya.


Pembicaraan Nia, aku, dan Danti benar-benar terjadi. Selang beberapa minggu, saat bermain di rumah Sofi, Tedja dan teman-teman lain telah menyusun rencana untuk menembakku. Singkat namun sangat membekas. Saat kami membentuk lingkaran. Dia memainkan pesan berantai. Orang pertama adalah dia, dan yang terakhir ialah aku. Dia membisikkan kalimat “Aku suka kamu, mau gak jadi pacarku?” kepada anak-anak lain hingga akhirnya sampai ke telingaku. Jawaban sulit menurutku. Dan aku butuh waktu untuk menjawabnya.


“Dia bener-bener nembak gue!” ku menceritakan kejadian kemarin kepada Nia dan Danti.


“Tuy kan, apa gue bilang. Trus lo jawab apa?" Danti bertanya dengan penuh penasaran.


“Ya blum gue jawab, gue butuh waktu dua hari mulai dari sekarang. Menurut lo berdua gimana?” tanyaku penuh kebimbangan dan kebingungan.


“Gue punya ide! Tapi terserah lo mo nerima ide gue ato gak!gue Cuma nyaranin.”


Nia memberikan saran, agar aku menerima Tedja jadi pacar, namun hanya dalam batas dua bulan. Seperti di kontrak. Memang terkesan jahat, namun jika aku menolaknya pun aku tak tega. Nia memberikan kebebasan padaku dalam waktu dua bulan itu untuk menjalankan selayaknya pacaran. Kemudian selanjutnya setelah itu, kembali pada diriku. Aku menerima saran Nia.


Lusa, aku memberikan jawaban itu. Aku menerima Tedja sebagai pacarku. Banyak anak kelas yang tidak percaya. Mereka banyak yang berkata aku tak cocok dengan Tedja. Aku yang manis, kalem tak banyak bertingkah jadian dengan Tedja yang begajulan, jorok, dan pemarah. Namun itu semua tak kuhiraukan. I just try it! Seminggu kami lalui dengan indah-indahnya. Tedja selalu berkata


“Aku akan jadi yang terbaik buat kamu. Semua orang pasti punya banyak kekurangan La, tapi kalo kita bersyukur dengan apa yang kita dapat pasti semua akan mudah kita lalui.”


Di sisi perilakunya yang garang, dia memilki sisi yang romantis. Dia memang tidak pandai menyusun kata-kata. Namun, dia lakukan itu dengan perbuatan. Waktu kami sebulanan, dia memberikanku seikat mawar yang jumlahnya sama dengan tanggal jadian kami. Dia sering membuat surprise yang membuat aku tak percaya. Begitu besarnya perhatiannya padaku, namun aku masih bimbang dengan perasaanku. Kadang-kadang aku sayang, namun kadang aku tak perduli dengan apa yang dilakukannya. Sebulan lebih seminggu telah kami lewati bersama. Namun perasaan itu belum muncul juga. Aku hanya takjub dengan keromantisannya, namun tak pernah aku mencintainya.


“Gila lo La, dia sebegitu romantisnya, tapi lo blum ngerasain apa-apa?! Kalo gue jadi lo. Gue bangga-banggain tuh cowok gue!! Emang sih dia gak ganteng kayak cowok gue, tapi dari yang gue lihat. Dia sayang and perhatian banget ama lo La!” Nia menasihatiku seperti aku adalah anak tirinya.


“Tapikan itu lo Ni!! Gue kan beda ama lo! Gue ajah bingung ama perasaan gue ndiri. Ini semua salah lo Ni! Bentar lagi dua bulan. Perjanjian kitakan setelah dua bulan gue belum merasakan apa-apa, gue bakal mutusin dia. Tapi sekarang gue malah bingung. Gue jahat banget dong kalo gue mutusin dia tanpa sebab.”


“Kok lo jadi nyalahin gue? Guekan cuman ngasih saran!lo tuh yang plin-plan. Dikasih saran dikit langsung nerima aja. Sekarang lo malah nyalahin gue! Guekan mau yang terbaik wat lo La!” Nia begitu tersinggung hingga akhirnya dia pulang kerumahnya dan meninggalkanku sendiri di kamar.


Seminggu lagi. Aku berusaha menyusun kata-kata agar tak terlalu menyakitkan Tedja. Apa aku harus membuatnya ilfeel biar dia yang memutuskanku? Namun, bagaimana caranya? Aku masih diem-dieman dengan Nia. Belakangan ini kami jarang bermain bersama. Sekarang hanya Danti teman curhatku satu-satunya. Namun Danti tak sebrilian Nia yang punya segudang ide. Danti terlalu polos. Aku tak bisa mengandalkannya. Apa yang harus aku lakukan?


Seminggu telah berlalu. Tibalah saatnya hari ini aku melakukan tindakan. Aku memutuskan Tedja dengan caraku sendiri. Yaitu berkata jujur. Walaupun menyakitkan, namun ini demi kebaikan aku dengannya. Kumulai bercerita dari awal alasan aku menerimanya hingga tak kurasakan perasaan sayang itu terhadapnya. Hingga ujungnya aku meminta kami berpisah hari ini. Setelah mendengar pernyataan itu dariku, terlihat kekecewaan di wajahnya.


“Kenapa la?lo tega lakuin ini ke gue!gue selalu berusaha jadi yang terbaik wat lo! Apa karna gue gak ganteng La? Gue gak tajir? Gue terima keputusan lo. Tapi satu hal yang harus lo inget. Di dunia ini gak ada manusia yang sempurna. Lo mau bentuk cowok lo sebagus apapun pasti dia punya kekurangan!!” Tedja berbalik dan pergi meninggalkanku. Kulihat punggungya dari belakang semakin menjauh dan menghilang.


Seminggu kemudian, aku baru merasakan kehilangan yang begitu dalam. Kehilangan sahabat dan orang yang sempat mengisi hari-hariku. Setelah instropeksi diri. Kurasa aku yang salah, selama ini aku menginginkan pacar yang serba sempurna. Maka dari itu, aku terlalu pemilih dalam mencari pasangan. Mungkin aku tak menyadari perasaan ku terhadap Tedja, sebenarnya perasaan itu ada, namun aku menutupinya dengan melihat kekurangan Tedja sehingga aku ilfeel terhadapnya. Setelah kuberpisah dengannya, aku belajar banyak darinya. Tak ada seorangpun yang sempurna di muka bumi ini. Dan aku sadar, dirikupun tak sempurna. Tuhan menciptakan ketidaksempurnaan agar kita terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku berbesar hati untuk meminta maaf kepada Nia, sahabatku. Aku tahu, dia hanya ingin yang terbaik buatku. Sekarang kami berbaikan kembali. Tapi sampai sekarang aku masih menunggu maaf dari Tedja. Entah sampai kapan dia membenciku. Namun, aku tahu sekarang, bahwa perasaan seseorang tidak bisa di beli dengan materi, fisik, dan perilaku. Semua itu terwujud karena adanya hati yang tulus. Terimakasih Tedja, karena kamu sempat menjadi pacar kontrak ku dan mengajarkan aku sesuatu hal yang berharga dalam hidupku.

-The end-